Jumat, 08 Juni 2012

manajemen supervisi pendidikan


BAB I
Pedoman Pelaksanaan Administrasi Dan
Supervisi Pendidikan
        Dalam supervisi pendidikan, pedoman utama yang harus dipegang adalah cara kerja supervisi yang merupakan fungsi supervisi itu sendiri. Pedoman supervisi adalah sebagai berikut:
  1. Mengadakan evaluasi terhadap kurikulum dengan segala sarana dan prasarananya
  2. Membantu kepala sekolah/guru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.
  3. Membantu serta membina guru/kepala sekolah dengan cara memberikan petunjuk, penerangan dan pelatihan agar mereka dapat meningkatkan keterampilan dan kemampuan mengajarnya;
        Tiga pedoman tersebut mengisyaratkan bahwa tata kerja yang harus dilakukan dalam melaksanakan supervisi pendidikan berkaitan dengan hal-hal berikut:
  1. Supervisi adalah pelayanan seluruh kegiatan pembelajaran dan pengadministrasiaanya secara akademik;
  2. Penelitian terhadap semua aktivitas pembelajaran yang berkaitan dengan keadaan sarana dan prasarana    belajar, keadaan siswa, kemajuan prestasi akademik siswa, permasalahan yang dihadapi sekolah dan seluruh aktivitasnya, pencarian solusi masalah dan penerapan serta pelaksanaan model baru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik;
  3. Pengawasan akademik dan pengadministrasiannya;
  4. Evaluasi terhadap semua yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu kaitannya dengan guru dan kinerjanya, kurikulum, anak didik, alat-alat pendidikan, sistem evaluasi, dan kelembagaan lainnya; 
  5. Penerbitan kesesuaian jabatan dan tugas para karyawan, staf, para guru, dan seluruh pihak terkait. Dengan cara menerapkan proporsionalitas guru dan keahliannya dlaam kaitannya dengan mata pelajaran yang diajarkannya, agar para siswa menerima pembelajaran yang efektif dan efisien dan mengutamakan keahlian para guru utnuk mengembangkan kreativitas siswa dalam pembelajaran di sekolah dan di luar sekolah.
Kegiatan supervisi pada dasarnya akan diarahkan pada hal-hal sebagai berikut :
  1. Membangkitkan dan merangsang semangat guru dan pegawai sekolah.
  2. Mengembangkan dan mencari metode-metode belajar mengajar yang baru yang lebih sesuai dan lebih baik.
  3. Mengembangkan kerjasama yang baik dan harmonis antara guru dan siswa, serta guru dengan seluruh tenaga pengajar yang lain, kepala sekolah dan seluruh staf yang berada dalam sekolah yang bersangkutan.
  4. Berusaha meningkatkan kualitas wawasan dan pengetahuan guru dan pegawai dengan cara melakukan pembinaan secara berkala.   
            Sebagai pelaksana di dalam pendidikan, supervisor merupakan salah satu aset dalam membentuk pembentukan konsep-konsep yang telah dirancang dalam program-program saat ini, contohnya saja di dalam melakukan peranannya supervisor harus bisa memberikan bimbingan dan pengawasan yang pada intinya kepada guru, supervisor harus memberikan empati dan simpati secara human relationship untuk menjalin komunikasi yang baik. Di bawah ini peranan supervisor secara umumnya yaitu :
a.    Pemimpin Seorang supervisor harus melaksanakan kepemimpinannya sedemikian rupa, sehingga kepala sekolah yang disupervisinya dapat ditingkatkan menjadi kepala sekolah yang lebih bertanggung jawab, lebih mampu di bidang profesinya, dan memiliki sifat-sifat kepemimpinan.
b.     Inspeksi Sebagai seorang supervisor supervisi pendidikan sebagai inspeksi yaitu sebagai alat kontrol sampai di mana ketentuan-ketentuan yang dijalankan dalam kegiatan di dalam persekolahan.
c.    Penelitian Untuk dapat menemukan sebab-sebab yang menghambat hasil belajar, dan mencari dan menemukan cara metoda yang kiranya dapat meningkatkan proses dan hasil belajar, serta untuk memperoleh data yang dipakai untuk menyusun program peningkatan guru secara menyeluruh.
Peranan supervisor adalah sebagai pembimbing, pengawasan dan pemantau yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam melaksanakan proses kegiatan belajar-mengajar dan kegiatan sekolah secara menyeluruh karena pada intinya supervisor itu mempunyai peranan yang ganda yaitu sebagai pengatur dan penggerak dalam kegiatan keseluruhan kegiatan di sekolah contohnya kepala sekolah harus menyusun rancangan APBS ( Anggaran Pendapatan Biaya Sekolah ) .
Peranan kedua supervisor harus memantau bagaimana keadaan peserta didiknya baik secara kognitif, afektif maupun psikomotor melalui laporan setiap guru sejauh mana perkembangan peserta didiknya yang pada umumnya dilihat dari hasil evaluasi belajar yang didata melalui nilai yang diperoleh para siswa.
Pelaksanaan supervisi secara hierarkis mulai pengawasan dari pusat ke daerah, dari wilayah kabupaten ke wilayah kecamatan, dan dari wilayah kecamatan ke wilayah desa. Pejabat Diknas pusat melaksanakan supervisi atau pengawasan ke seluruh sekolah yang terdapat di daerah, misalnya di seluruh sekolah yang ada di kabupaten. Pengawas dari Diknas kabupaten melaksanakan supervisi dan pengawasan ke seluruh sekolah yang terdapat di kecamatan. Para kepala sekolah melaksanakan supervisi di sekolahnya yang ia pimpin.
Dalam melaksanakan tugasnya, para supervisor mempersiapkan perencanaan yang sistematis dan memberitahukan sebelumnya kepada sekolah-sekolah yang akan dikunjungi oleh para supervisor. Para supervisor menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada pihak yang didatangi, menilai proses yang telah dan sedang dilaksanakan, mengarahkan, membina, dan memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi sekolah tertentu. Dengan demikian, pihak yang disupervisi akan memperoleh masukan yang membantu terwujudnya perbaikan dan pengembangan sekolahnya.
Semua hasil supervisi dibuat rangkap empat, yaitu:
1.    Rangkap pertama diserahkan kepada pihak sekolah;
2.    Rangkap kedua diserahkan kepada pihak pengawas pusat;
3.    Rangkap ketiga diserahkan kepada penilik;
4.    Rangkap keempat dibawa oleh pelaksana supervisi.
Dengan adanya hasil supervisi yang diperoleh dari pihak pelaksana supervisi, pihak kepala sekolah dan para guru akan mengkaji kekurangan-kekurangan yang dialaminya. Hasil penilaian supervisi menjadi pemicu untuk mencari pemecahan masalah, sehingga kondidi sekolah dapat diperbaiki dan berkualitas.
Pelaksanaan supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1.    Kunjungan rutin yang terjadwal ke setiap sekolah, yang dikesani sebagai silaturahmi para supervisor sehingga terbentuk hubungan dialogis yang harmonis dalam mendiskusikan berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah;
2.    Melakukan berbagai kegiatan sekolah dengan melibatkan para guru dan siswa untuk mengenali dan menerapkan metode dan pendekatan baru dalam pembelajaran;
3.    Melaksanakan seminar pendidikan untuk para guru untuk menambah wawasan kependidikannya;
4.    Pelaksanaan kurikulum baru yang lebih menekankan kepada pengembangan kemandirian siswa;
5.    Penilaian terhadap kinerja guru dan reward yang dijanjikan.
Pelaksanaan supervisi didasarkan pada system pembinaan dan pengembangan kemajuan sekolah dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, supervisi pendidikan berhubungan erat dengan administrasi pendidikan, karena dalam administrasi pendidikan terdapat unsur-unsur yang menjadi persyaratan bagi kemajuan pendidikan.
Adapun teknik-teknik supervisi adalah sebagai berikut:
1.    Program orientasi;
2.    Perkunjungan kelas;
3.    Observasi kelas;
4.    Pelajaran contoh;
5.    Perpustakaan jabatan;
6.    Saling mengunjungi kelas.
Administrasi pendidikan berkaitan secara langsung dengan program pendidikan yang diterapkan, penerimaan siswa dan syarat-syarat yang harus ditempuh, pembiayaan sekolah, kepegawaian, keuangan sekolah, sarana dan prasarana, serta pembukuan dan ketatausahaan sekolah.
Bidang-bidang yang tercakup di dalam administrasi pendidikan dapat sikelompokkan sebagai berikut:
1.    Administrasi materiil, yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, gedung, dan alat-alat perlengkapan sekolah;
2.    Administrasi personal, mencakup administrasi personal guru dan pegawai sekolah, dan administrasi murid;
3.    Administrasi kurikulum, yang mencakup penyusunan kurikulum, pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum, pembagian tugas mengajar para guru-guru dan penyusunan silabus.
Dengan tiga bidang di atas, ruang lingkup administrasi pendidikan berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
1.    Perencanaan program pendidikan;
2.    Pengorganisasian pendidikan;
3.    Pengarahan dan pengembangan;
4.    Pengendalian dan pengawasan pendidikan.










BAB II
Perbedaan Inspeksi Dan Supervisi
A.    Inspeksi
Inspeksi  berasal dari bahasa Belanda “inspectie” yang artinya memeriksa.
Orang yang menginsipeksi disebut inspektur.
Inspektur dalam hal ini mengadakan :
    Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya
    Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan/digariskan
    Judging : mengandili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak
    Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis
    Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik
B.    Supervisi
Supervisi di adopsi dari bahasa  inggris ‘supervision’ yang berarti pengawasan.  Super berarti atas, dan visi berarti lihat/penglihatan, pandangan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut supervisor pendidikan.
Supervisi bercirikan :
    Research :meneliti situasi sebenarnya disekolah
    Evalution : penilaian
    Improvement :mengadakan perbaikan
    Assiatance :memberikan bantuan dan bimbingan
    Cooperation :kerjasama antara supervisor dan supervised ke arah perbaikan situasi.
Kepengawasan pendidikan di Indonesia dewasa ini mengalami masa transisi dari inspeksi kea rah supervise yang dicita-citakan. Yang disebut supervisor pendidikan bukan hanya para pejabat/petugas dari kantor pembinaan, kepala sekolah, guru-guru dan bahkan murid pun dapat disebut sebagai supervisor, bila misalnya diserahi tugas untuk mengetuai kelas atau kelompoknya.

BAB III
Supervisi Pendidikan
A.    Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan
1.    Prinsip-prinsip fundamental Pancasila merupakan dasar atau prinsip fundamental bagi setiap supervisor pendidikan Indonesia. Bahwa seorang supervisor haruslah seorang pancasilais sejati.
2.    Prinsip-prinsip praktis
a. Negatif
    Tidak otoriter
    Tidak berasas kekuasaan
    Tidak lepas dari tujuan pendidikan
    Bukan mencari kesalahan
    Tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil
b. Positif
    Konstruktif dan kreatif
    Sumber secara kolektif bukan supervisor sendiri
    Propessional
    Sanggup mengembangkan potensi guru dkk
    Memperhatikan kesejahteraanguru dkk
    Progresi
    Memperhitungkan kesanggupan supervised
    Sederhana dan informal
    Obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri
B.    Tujuan Supervisi Pendidikan
1.    Tujuan umum
    Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri.
    Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia pembangunan dewasa yang berpancasila.
    Perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.
2.    Tujuan khusus
    Membantu guru-guru lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya
    Membantu guru-guru untuk dapat lebih memahami dan menolong murid
    Memperbesar kesnggupan guru mendidik murid untuk terjun ke masyarakat
    Memperbesar kesadaran guru terhadap kerja yang demokratis dan kooperatif
    Membesar ambisi guru untuk berkembang
    Membantu guru-guru untuk memanfaatkan pengalaman yang dimiliki
    Memperkenalkan karyawan baru kepada sekolah
    Melindungi guru daru tuntutan tak wajar dari masyarakat
    Mengembangkan professional guru
C.    Fungsi Supervisi Pendidikan
1.    Penelitian (research) → untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu situasi pendidikan
    Perumusan topik
    Pengumpulan data
    Pengolahan data
    Konlusi hasil penelitian
2.    Penilaian (evaluation) → lebih menekankan pada aspek daripada negative
3.    Perbaikan (improvement) → dapat mengatahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya.
4.    Pembinaan → berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang disupervisi
D.    Keterampilan  Supervisor Pendidikan
1.    Keterampilan dalam kepemimpinan (leadership)
 Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan yang dipimpin
    Working on : wibawa (power on)
    Working for : pembantu bagi orang yang disupervisi
    Working mithin : bersama-sama
2.    Keterampilan dalam proses kelompok
Supervisor harus terampil :
    Membangkitkan semangat kerjasama
    Merumuskan tujuan
    Merencanakan bersama
    Mengambil keputusan bersama
    Menciptakan tanggung jawab bersama
    Menilai dan merivisi bersama
3.    Keterampilan dalam hubungan insani (human relation)
Supervisor tidak semata-mata berurusan dengan aspek meteril tetapi berhadapan dengan manusia-manusia yang berbeda perilaku.
    Hubungan pribadi : pribadi orang yang bersangkutan
    Hubungan fungsionil : fungsi yang dijalankan seseorang
    Hubungan instrumental : didasarkan atas pandangan memperalat bawahan
    Hubungan konsensionil : didsarkan atas kebiasaan atau kelaziman yang berlaku.
4.    Keterampilan dalam administrasi personalSupervisor harus terampil :
    Menyeleksi anggota/karyawan baru
    Mengorientasi anggota/karyawan baru
    Menempatkan dan menugaskan sesuai kecakapan
    Membina
5.    Keterampilan dalam evaluasi (evaluation)
    Merumuskan tujuan dan norma-norma
    Mengumpukan fakta-fakta perubahan
    Menterapkan criteria dan menyusun pertimbangan
    Merevisi rencana yang disusun
E.    Tipe-Tipe Supervisor Pendidikan
1.    Otokratis : supervisor penentu segalanya
2.    Demokratis : mementingkan musyawarah mufakat dan bekerjasama atau gontong royong secara kekeluargaan.
3.    Manipulasi diplomatis : mengarahkan orang yang disupervisi untuk melaksanakan apa yang dikehendaki supervisor dengan cara muslihat
4.    laissez-faire : memberikan kebebasan dan keleluasan kepada orang yang disupervisi untuk melakukan apa yang dianggap mereka baik.
F.    Jenis-Jenis Supervisi Pendidikan Berdasarkan prosesnya
1.    Koraktif : lebih mencari kesalahan
2.    Preventif : mencegah hal-hal yang tidak diinginkan
3.    Konstruktif : membangun (dapat memperbiki jika terjadi kesalahan)
4.    Kreatif : menekankan inisiatif dan kebebasan berfikir
G.    Tekhnik Supervisi Pendidikan
1.    Tekhnik kelompok : cara pelaksanaan supervise terhadap sekelompok orang yang disupervisi
2.    Tekhnik perorangan : dilakukan terhadap individu yang memiliki masalah khusus.
H.    Metode Supervisi
1.    Metode langsung : alat yang digunakan mengenai sasaran supervise
2.    Metode tak langsung : mempergunakan berbagai alat perantara (media)
I.    Program Supervisi Pendidikan
Suatu program supervisi pendidikan adalah rangka program perbsikan pendidikan dan pengajaran.
1.    Perancanaan adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, kapan dan dimana.
a. prinsip-prinsip : kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu
b. Syarat-syarat :
    tilikan jelas tentang tujuan pendidikan
    pengetahuan tentang mengajar yang baik
    pengetahuan tentang pengalaman belajar murid
    pengetahuan tentang guru-guru
    pengetahuan tentang murid-murid
    pengaetahuan tentang masyarakat
    pengetahuan tentang sumber-sumber fisik
    factor biaya
    factor waktu
c. proses : merumuskan what, why, how, who, when, where
2.    organisasi program
a. pola-pola :
→ horizontal
→ vertical
b. langkah-langkah mengorganisir program :
    persiapakan suasana
    pertimbangan situasi
    penyusunan program
    pembagian tanggung jawab
    perwujudan program
    pembinaan perkembangan program
    integrasikan program dengan masyarakat
    persiapan program evaluasi
3.    evaluasi
Evaluasi dalam hubungannya dengan pendidikan adalah menentukan sampai dimana tujuan-tujuan pendidikan yang ditetapkan telah tercapai.
a. prinsip-prinsip
    rencana harus komprehensif
    penyusunan harus kooperatif
    program harus kontinu dan berinteraksi dengan kurikulum
    lebih menggunakan data yang objektif daripada yang subyektifmenghargai para participant
b. proses   
    merumuskan tujuan evaluasi
    menyeleksi alat-alat evaluasi
    menyusun alat-alat evaluasi
    menerapkan alat-alat evaluasi
    mengelola hasil
    menyimpulkan
c. aspek-aspek yang dievaluasi :
    personil → murid, guru, karyawan, wali murid, kepsek, supervise
    materiil → kurikulum, perlengkapan sekolah, administrasi, perlengkapan murid
    operational → proses kepemimpinan, proses mengajar, usaha kesejahtraan personil, usaha integrasi sekolah dan masyarakat
J.    Perbedaan konsep inspeksi dan supervise pendidikan
1.    perbedaan fungsi
    inspeksi merupakan suatu jabatan (position) dalam suatu jawatan
     supervise merupakan suatu fungsi (funcition) untuk membina perbaikan suatu situasi
2.    perbedaan prinsip
    inspeksi dilaksanakan berdasarkan prinsip otokrasi/inspector, atau pengawas
     supersvisi dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi yang dijiwai oleh fasafah pancasila
3.    Pebedaan interpretasi terminologis
4.    Pebedaan aktualisasi fungsi sebagai administrator dan supervisor pendidikan
    administrator berfungsi mengatur agar segala sesuatu berjalan dengan baik
    supervisor berfungsi membina agar sesuatu itu berjalan secara lebih baik dan lebih lancar lagi (meningkatkan mutu) dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan
5.     Perbedaan konsepsional tentang kepemimpinan dan kekuasaan kekuatan (mendapat yang diberikan tidak disertai wewenang bertindak, sehingga bukan hanya sulit, ia juga tidak tau apa yang menjadi wewenangnya.

1 komentar:

  1. mbak ini bukunya judulnya apa saya mau cari..terimakasih

    BalasHapus